Langsung ke konten utama

Lepas 295 Lulusan, Universitas Pekalongan Gelar Sidang Senat Terbuka di PICC

   Pekalongan, 25 April 2026  - Berbeda dengan tahun sebelumnya, Universitas Pekalongan (UNIKAL) kembali menggelar Sidang Senat Terbuka dalam Rangka Wisuda Magister ke-5, Profesi ke-14, Sarjana ke-64, dan Diploma ke-28 yang bertempat di Parkside International Convention Center.

   Sebanyak 295 Wisudawan secara resmi menjadi alumni dan mengakhiri masa studi akademik mereka di Universitas Pekalongan. Prosesi yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran senat, pemimpin yayasan, dosen, serta keluarga wisudawan yang memenuhi area gedung sejak pagi hari.

   Momen haru sekaligus membanggakan menyelimuti sambutan Rektor Universitas Pekalongan, yang menandai perubahan status para mahasiswa menjadi alumni.

   Dalam sambutannya, Rektor Universitas Pekalongan, Dr. Andi Kushermanto memberikan ucapan selamat sekaligus pesan mendalam kepada para lulusan. Beliau menekankan bahwa kepintaran akan kalah dengan mereka yang selalu belajar dan berjuang.

   "Dunia hari ini tidak lagi bertanya, siapa yang paling pintar. Tapi dunia bertanya, siapa yang paling mampu belajar ulang. Pengetahuan yang kalian miliki akan menjadi usang, kemampuan yang dimiliki untuk beradaptasi dan berjuang itulah yang akan bertahan," ucap Dr. Andi Kushermanto dalam sambutannya..

 Beliau menambahkan bahwa UNIKAL terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan demi mencetak lulusan yang Unggul Berkarakter, sesuai dengan visi besar Universitas.

   Kemeriahan tak hanya terasa di dalam ruang sidang. Area luar PICC dipenuhi dengan berbagai karangan bunga ucapan selamat serta spot-spot foto yang dimanfaatkan para wisudawan untuk mengabadikan momen terakhir bersama keluarga ataupun teman seperjuangan.

Harapan Orang Tua

     Di sisi lain, kebahagiaan besar terpancar dari wajah para orang tua yang hadir. Bagi keluarga, momen ini bukan hanya formalitas, namun simbol keberhasilan dari perjuangan panjang putra putri mereka.

     Salah satu orang tua wisudawan mengungkapkan kesan dan pesannya hari ini. Mereka berharap bekal ilmu yang didapatkan dari UNIKAL dapat bermanfaat bagi keluarga masyarakat dan masyarakat.

      "Saat ini perasaannya senang, terus bangga sudah mencapai sampai lulus, sampai wisuda hari ini," ujar Ibu dari Nadia ketika diwawancarai.

rapannya semoga ilmunya bisa bermanfaat untuk keluarga, untuk masyarakat," lanjut beliau sembari berkaca-kaca.


Editor: Nirvaeta

Penulis: Ayyalieumar

Dokumentasi: Fatimazzahro, Dhea

Tim Liputan: Abrao, Erland, Najib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NASKAH ESAI: Membangun Media yang Memanusiakan Manusia

     Penulis: Diki Mardiansyah (Juara 3 Lomba Esai Festival Jurnalistik LPM Suaka UNIKAL 2021)      Media semakin tidak memegang etika jurnalistik dan menuju keadaan yang semakin mengkhawatirkan. Banyak malpraktik di industri media. Profesi wartawan banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak jelas, hanya untuk mencari keuntungan pribadi semata. Baik dengan mencari “amplop”, memeras, clickbait, membuat media “abal-abal” yang tujuannya hanya mencari uang, atau menjadikan media memuat berita yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan      Hal itu, saya kira, menjadi pelanggaran kode etik yang sangat serius dan semakin menggejala. Dengan dilanggarnya kode etik jurnalistik itu, implikasinya adalah media tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan karena membuat berita yang tidak berkualitas dan bermutu. Padahal, media menjadi sarana penting untuk menyampaikan pesan tentang kemanusiaan. Sebab, kemanusiaan adalah nilai universal yang dapat men...

Cerpen Satu Buku

Aku menghela napas melihat jam dinding di ruang kelas yang sunyi dan hanya ada satu suara, yaitu suara guru matematika yang sangat menyebalkan. Guru yang selalu memberi tugas dengan segudang pertanyaan di kelas sebagai hukuman jika tertidur dikelas. Melihat banyaknya rumus membuatku sangat malas dan ingin tidur di kelas. Aku selalu berpikir bahwa sekolah adalah neraka bagi setiap anak di dunia, tidak berguna dan hanya membuang waktu. Aku pikir hidup akan lebih baik jika anak diseluruh dunia tidak bersekolah. Ketika bel pulang sekolah terdengar, itulah hal yang sangat menggembirakan bagiku. Hal  yang sudah kutunggu–tunggu sejak pukul 07.00 pagi. Aku tidak menyukai sekolah, entah karena gurunya, teman – teman yang jahil atau karena hal lain yang tidak dapat diprediksi. Di sekolah aku hanya melamun, membaca komik, atau bahkan tertidur karena terlalu asik main game semalaman. Aku tidak tahu arah dan tujuan hidup yang jelas. Aku hanya tahu game, komik, dan tidur. Berbaring d...