Langsung ke konten utama

WISUDA DI HALAMAN PARKIR, LANGKAH ADAPTIF UNIVERSITAS PEKALONGAN

Pekalongan (26/04/25) - Universitas Pekalongan menggelar acara wisuda Magister ke-3, Profesi ke-12, Sarjana ke-62, dan Diploma ke-26. Di tengah hiruk pikuk perayaan kelulusan sebuah pemandangan tak biasa tersaji di Universitas Pekalongan. Alih-alih ballroom hotel megah, halaman parkir kampus justru bertransformasi menjadi lokasi digelarnya prosesi wisuda. Sebuah pilihan yang mungkin menimbulkan tanya, namun dibalik kesederhanaannya tersembunyi sebuah langkah adaptif dan inovatif. Lantas, mengapa halaman parkir dianggap sebagai opsi yang masuk akal untuk momen kebanggaan ini?

Pada wisuda kali ini, sejumlah 360 lulusan dari berbagai fakultas dan program studi diwisuda, meliputi: Fakultas Ekonomi Bisnis (S2 Manajemen: 9, S1 Manajemen: 79, S1 Akuntansi: 50), Fakultas Hukum (S2 Hukum: 1, S1 Ilmu Hukum: 106), Fakultas Perikanan (S1 Budidaya Perairan: 18), Fakultas Pertanian (S1 Agroteknologi: 13), Fakultas Ilmu Kesehatan (S1 Kesehatan Masyarakat: 6, S1 Ilmu Keperawatan: 4, Profesi Ners: 3), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (S1 Pendidikan Matematika: 5, S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia: 6, S1 Pendidikan Bahasa Inggris: 7), serta Fakultas Farmasi (S1 Farmasi: 21, D3 Farmasi: 32).

Lazimnya, momen sakral wisuda identik dengan kemegahan, gemerlap lampu, karpet mewah, dan tata ruang elegan di hotel berbintang. Namun, pilihan Universitas Pekalongan untuk memanfaatkan ruang terbuka di halaman parkir kampus sebagai lokasi wisuda justru menghadirkan perspektif yang berbeda. Langkah ini memunculkan pertanyaan menarik, mungkinkah sebuah kesederhanaan justru menjadi representasi yang lebih otentik dan relevan bagi sebuah institusi pendidikan dan para lulusannya?

Kekecewaan sebagian wisudawan atas pemilihan lokasi tak lazim ini tak bisa dihindari. Idhar Ramadhan, wisudawan Fakultas Hukum, mengungkapkan, "Sebetulnya kan agak lumayan kecewa juga ya, biasanya kan di ballroom hotel, kemudian ini di parkiran dan sebelumnya belum ada pemberitahuan dulu nih, mepet pemberitahuannya. Cuma ya, fasilitasnya bagus kek gini ya gak papa sih, worth it aja," mencerminkan adanya ekspektasi yang tidak terpenuhi terkait lokasi acara sakral tersebut.

Senada dengan Idhar, Muhamad Veri Afrizal, wisudawan lain, bahkan menilai lokasi tersebut "sangat kurang layak," terutama mengingat kehadiran keluarga dan kerabat yang menurutnya tidak mendapatkan representasi citra kampus yang baik.

Namun, berbeda dengan para wisudawan, tanggapan orang tua menunjukkan sikap yang lebih menerima dan fokus pada esensi acara wisuda itu sendiri. “Sebelumnya sudah ada pengumuman akan dilaksanakan di hotel Dafam tapi sekarang sudah dipindahkan di sini. Saya itu orangnya fleksibel aja si mas, menyesuaikan dari kebijakan kampus. Kami selaku orang tua yang penting melihat adiknya wisuda itu sudah cukup senang mas, walaupun dimanapun tempatnya. Tapi menurut saya pribadi, saya lebih suka di kampus karena berawal di kampus ya berakhir di kampus,” ucap salah satu keluarga dari wisudawan. Pernyataan ini menyoroti adanya perbedaan perspektif antara mahasiswa yang mungkin memiliki ekspektasi tertentu terhadap kemewahan acara wisuda dengan orang tua yang lebih mengutamakan momen kebahagiaan atas keberhasilan studi anak mereka.

Senada dengan pandangan yang lebih mengutamakan regulasi dan esensi acara, perwakilan dari pihak SEMA-U Iqbal Maulana Aziz yang merangkap sebagai sie acara memberikan penjelasan terkait perubahan lokasi wisuda. Dengan menyampaikan, “dari kementerian terkait perguruan tinggi, peraturan yang ada di DIKTI itu memang aslinya kalau wisuda itu berada di kampus. Sebenarnya UNIKAL melakukan wisuda di hotel itu sedikit melanggar peraturan yang dibuat oleh DIKTI. Makanya UNIKAL mencoba wisuda di kampus itu sendiri. Wisuda di hotel menurut persepsi saya enggak ada perbedaan karena memang dari peraturannya seperti itu. Jadi ya menurut saya UNIKAL mencoba untuk mengembalikan agar UNIKAL tidak melanggar. Melanggar apa ya? melanggar dari peraturan yang di sudah dibuat oleh kementerian karena kalau misalkan UNIKAL terus melanggar itu bakal impact-nya bakal memberikan sanksi seperti itu,” Penjelasan ini memberikan konteks peraturan yang mendasari keputusan kampus untuk memindahkan lokasi wisuda. Alih-alih sekadar persoalan preferensi tempat, kebijakan ini rupanya didasari oleh upaya kepatuhan terhadap regulasi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI).

 

Penulis             : Rahma Coni dan Athiyah Hasna

Reporter          : Reffi Mahriza dan tim


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Saf: Mengisi Ruang Kosong Perjuangan di Forum Mahasiswa Unikal

Dokumentasi: Tim Redaksi LPM Suaka Unikal PEKALONGAN - Paving block dingin lapangan parkir Gedung E Universitas Pekalongan (Unikal) menjadi saksi bisu narasi yang dibawakan Ketua BEM KM UGM 2025, Tiyo Ardianto dan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, Azlan Syah Putra. Dalam acara Forum Kolektif Mahasiswa Unikal pada Rabu 11 Maret 2026 malam, Tiyo dan Azlan secara gamblang menguliti kebijakan rezim Prabowo-Gibran, meski diwarnai drama intimidasi sebelum acara dimulai.  Drama: Upaya 'Penculikan' Berkedok Ngopi Forum yang terbuka untuk umum ini sempat tertunda dari jadwal semula pukul 18.00 WIB. Ketegangan memuncak saat Ketua BEM KM Unikal, Syakif, mengungkapkan adanya upaya penghadangan terhadap Tiyo oleh oknum misterius yang mengaku sebagai Humas Unikal. Oknum tersebut memaksa ingin menjemput Tiyo sendirian untuk diajak "ngopi" terlebih dahulu sebelum ke kampus. "Mungkin kalau kita lengah sedikit, Mas Tiyo sudah tidak ada di sini," ujar Syakif saat membuka...

TBM Ngaji Literasi: Membangun Generasi Bermartabat di Tengah Gempuran Era Digital

  Dokumentasi: Putri Pekalongan - Taman Baca Masyarakat (TBM) Hidup Punya Cerita menyelenggarakan kegiatan bertajuk 'Ngaji Literasi' pada 6 Maret 2026. Acara yang dimulai pukul 16:30 WIB di lingkungan TBM ini bertujuan membekali generasi muda dengan ketajaman intelektual dan akhlak mulia selama bulan Ramadan.  Rangkaian acara diawali dengan ceramah mengenai puasa oleh Ustaz Ahmad Fauzi, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan buka bersama.  Pembina sekaligus Pendiri TBM Hidup Punya Cerita, Barok, menegaskan bahwa tema "Ramadan dan Kebangkitan Intelektual" dipilih karena keprihatinan terhadap masifnya informasi di ruang digital yang sering kali memuat hoaks. Menurutnya, kecerdasan tanpa moralitas akan menjadi bumerang. Dokumentasi: Putri "Generasi muda saat ini dimudahkan oleh akses digital yang cepat, namun rentan terpapar hoaks. Kita ingin membentuk generasi bermartabat melalui penguatan literasi. Selain ilmu, kita harus mengutamakan akhlak mulia. ...

Ketua SEMA-U Baru 2026: Antara Sayang Organisasi dan Wewenang Mutlak

  Dokumentasi Pelantikan oleh SEMA-U Pekalongan - Estafet kepemimpinan Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) tahun 2026 resmi bergulir dengan terpilihnya Adam Nur Faizin melalui jalur Sidang Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Munculnya nama Adam menjadi sorotan lantaran dia sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemira (DKPP) dan tidak mengikuti kontestasi Pemilihan Raya (Pemira) Mahasiswa dari awal. Dalam sesi wawancara khusus di Sekretariat UKM LPM Suaka pada hari Sabtu, 7 Februari 2026, Adam memberikan pelbagai tanggapan mengenai legitimasi, komposisi kabinet, hingga visi 'revolusioner' yang dibawanya.  Menanggapi pernyataan mengenai pilihannya maju melalui jalur Sidang Perwakilan Mahasiswa Fakultas alih-alih Pemira, Adam menjelaskan pada mulanya dia tidak berencana menduduki kursi ketua. Ia mengaku hanya ingin berkontribusi sebagai Ketua Komisi. "Saya sangat sayang sama organisasi tersebut. Kenapa bisa sayang? Karena organisasi itu yang membuat say...