Langsung ke konten utama

Ketua SEMA-U Baru 2026: Antara Sayang Organisasi dan Wewenang Mutlak

 

Dokumentasi Pelantikan oleh SEMA-U

Pekalongan - Estafet kepemimpinan Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) tahun 2026 resmi bergulir dengan terpilihnya Adam Nur Faizin melalui jalur Sidang Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Munculnya nama Adam menjadi sorotan lantaran dia sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemira (DKPP) dan tidak mengikuti kontestasi Pemilihan Raya (Pemira) Mahasiswa dari awal.

Dalam sesi wawancara khusus di Sekretariat UKM LPM Suaka pada hari Sabtu, 7 Februari 2026, Adam memberikan pelbagai tanggapan mengenai legitimasi, komposisi kabinet, hingga visi 'revolusioner' yang dibawanya. 

Menanggapi pernyataan mengenai pilihannya maju melalui jalur Sidang Perwakilan Mahasiswa Fakultas alih-alih Pemira, Adam menjelaskan pada mulanya dia tidak berencana menduduki kursi ketua. Ia mengaku hanya ingin berkontribusi sebagai Ketua Komisi.

"Saya sangat sayang sama organisasi tersebut. Kenapa bisa sayang? Karena organisasi itu yang membuat saya menjadi pribadi yang baik, soalnya aku juga berkembang di SEMA dulu," ujar Adam. Ia menambahkan bahwa meski tidak merasa sebagai yang paling layak, ia merasa cukup siap untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) yang ada, Adam memiliki kewenangan mutlak untuk menunjuk tujuh anggota inti SEMA-U. Menampik anggapan adanya 'titipan' senior, Adam menjelaskan parameter objektifnya adalah pengalaman dan kesiapan personal.

Ia menyebutkan beberapa nama, di antaranya Diki yang merupakan Ketua Organisasi Mahasiswa Eksternal (ORMEK) tertentu di tingkat kota, serta Heri dan Sigit yang telah satu periode di SEMA-U. Terkait status Heri dan Sigit yang berada di semester tua (semester 7 menuju 8), Adam memberikan pandangan unik mengenai masa studi. "Lulus itu gak harus tepat waktu, (tapi) lulus di waktu yang tepat," ungkapnya menirukan prinsip salah satu tokoh Ormawa lainnya.

Dokumen Penggalan Isi SK SEMA-U

Adam menjelaskan bahwa periodenya akan membawa perubahan 'revolusioner', termasuk rencana perombakan AD/ART dan pembentukan Majelis Kehormatan SEMA-U (MKS) yang diisi oleh fungsionaris tahun sebelumnya.

Meski mengakui tetap berkomunikasi dengan para pendahulunya seperti Mas Iqbal dan Mas Suryo, Adam menjamin independensi kepemimpinannya. "Mereka tidak akan mengontrol sama sekali. Mungkin aku cuma bisa bertanya bukan disetir. Mereka cuma memberikan insight biar aku mengambil keputusan itu gak ceroboh," tegasnya.

Namun, di balik narasi besar tersebut, terdapat dinamika dalam penjelasan teknis organisasi. Saat memaparkan rencana regenerasi, Adam sempat memberikan keterangan yang berubah-ubah mengenai batasan semester untuk staf ahli. "Nah di open recruitment itu ada batasan maksimal semester, yang maksimal itu semester 6 kayaknya, maksimal semester 6, eh 4 apa ya? Kayaknya sih 6, semester 6, kenapa semester 6? soalnya biar dari semester 1 dan 4 itu mereka bisa join SEMA-U, meskipun mereka tanpa basic organisasi, gak masalah. Yang penting mereka bisa belajar di SEMA-U," ujarnya.

Hal serupa tampak saat ia menjelaskan perbedaan struktur Badan Administrasi dengan Komisi Administrasi periode lain. Meski menyebutnya sebagai bagian dari langkah 'revolusioner', Adam mengakui adanya kemiripan substansi. "Kalau ini ada Komisi Legislasi sama Badan Legislasi. Komisi Legislasi itu membuat aturan dan merapikan aturan, kalau Badan Legislasi itu yang merapikan roda hukum dan yang mengkaji hukum-hukum yang akan ditetapkan. Itu beda antara Badan Legislasi sama Komisi Legislasi, itu salah satu revolusionernya. Terus ada Badan Administrasi yang mirip sama Komisi I tahun kemarin. Ya mirip sih, cuma berganti nama kalau yang ini. Terus struktur urutan komisi juga berbeda, kalau dulu Komisi I itu Administrasi, sekarang Legislasi. Cuma ganti-ganti angka doang sih, meskipun ada beberapa yang cuma ganti urutan nomor, tapi ya ini gak masalah," imbuhnya.

Menutup wawancara, Adam memberikan respons tegas saat disinggung mengenai kemungkinan adanya tuntutan mahasiswa untuk melakukan Pemira ulang demi tegaknya demokrasi yang sehat. Ia merujuk pada kewenangan dalam Konsma (Konstitusi Mahasiswa) yang menurutnya memberikan kuasa penuh bagi ketua periode sebelumnya untuk menentukan penerus bahkan tanpa delegasi.

"Kalau misal di Pemira ulang itu gak bisa, soalnya SEMA tahun kemarin itu memang bener-bener mereka punya kuasa penuh untuk menunjuk siapa ketua berikutnya tanpa delegasi. Sebenarnya tanpa delegasi, delegasi itu karena si Ketua SEMA itu tidak ingin terlihat sebagai orang yang terlalu otoriter. Jadi mereka menyerahkan itu ke fakultas masing-masing sebagai perwakilan dari fakultas masing-masing. Tapi dalam wewenang Ketua SEMA itu sebenarnya dia sangat-sangat bisa untuk menunjuk siapa ketua berikutnya tanpa Pemira sama sekali. Jadi kalau itu gak bisa, bahkan aku juga punya wewenang untuk menolak pernyataan itu. Jadi, ya aman-aman saja," pungkasnya.

Wawancara diakhiri dengan suasana kondusif, ditandai dengan penyerahan sebuah cenderamata kecil sebagai bentuk apresiasi atas waktu dan kesediaan narasumber untuk memberikan klarifikasi kepada publik kampus.


Penulis: Tim Redaksi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lomba Esai HUT RI ke 73 Universitas Pekalongan, Anggota LPM Suaka Juara

            Universitas Pekalongan mengadakan lomba Essay untuk memperingati hari kemerdekaan RI ke – 73. Tema essai yang diangkat yaitu, “Semangat 17 Agustus dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0”. Tema tersebut sangat menarik, karena perkembangan globalisasi yang begitu pesat membuat persaingan didunia industri semakin ketat. Tidak heran jika para pengangguran pun dimana-mana, sebab semakin berkembangnya zaman semakin pula banyak perubahan yang terjadi. Seperti halnya, dikabarkan bahwa tenaga kerja manusia akan berkurang dan digantikan oleh kecanggihan elektronik maupun teknologi. Selain itu, revolusi industri menjadi bahan ketakutan bagi mereka yang tidak berpendidikan tinggi sebab kurangnya keahlian yang mereka miliki.             Namun, kita sebagai warga negara Indonesia harus selalu memiliki semangat 17 Agustus yang ada didalam diri. Apalagi bagi pemuda pemudi ba...

PELANTIKAN HIPMI PT UNIVERSITAS PEKALONGAN

PELANTIKAN HIPMI PT UNIVERSITAS PEKALONGAN “Strengthening the Foundation of Collective Leadership to Empower a New Era of Academic and Business Excellence” HIPMI PT Universitas Pekalongan melaksanakan kegiatan pelantikan pengurus periode 2026–2027 pada tanggal 9 Mei 2026 yang bertempat di Gedung F Lantai 8 Ruang Adaro Universitas Pekalongan. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun semangat kepemimpinan kolektif serta memperkuat peran mahasiswa sebagai generasi muda yang inovatif, kreatif, mandiri, dan berjiwa entrepreneur. Acara pelantikan berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan ini dihadiri oleh narasumber dan tamu undangan, di antaranya M. Rizky Arweidya selaku Ketua Umum HIPMI Kota Pekalongan dan M. Haidar Nejad selaku Ketua Umum HIPMI PT Jawa Tengah. Kehadiran para tokoh HIPMI tersebut memberikan motivasi dan inspirasi kepada seluruh pengurus yang dilantik untuk terus berkembang dalam dunia organisasi dan kewirausahaan. Turut hadir dalam ke...

Konsolidasi dan Nobar Film Pesta Babi

Pekalongan Gelar Konsolidasi dan Nobar Film Pesta Babi, Ratusan Warga Antusias Hadir Aliansi lintas komunitas Pekalongan-Batang berkolaborasi dengan BEM KM Universitas Pekalongan menggelar kegiatan konsolidasi masyarakat sipil dan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di depan Gedung E Universitas Pekalongan, Kamis malam, 14 Mei 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 18.30 WIB tersebut dihadiri ratusan masyarakat Pekalongan dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, komunitas sosial, hingga pegiat lingkungan. Acara ini menjadi ruang diskusi bersama mengenai isu sosial, lingkungan, dan gerakan masyarakat sipil yang diangkat dalam film dokumenter tersebut. Diskusi dipantik oleh Rizki Riyansyah dari WALHI Jawa Tengah dan Hariz Aufa dari Social Movement Institute. Sementara jalannya acara dipandu Imam Nurhuda dari Save Pekalongan bersama Nadia Pitaloka dari BEM KM Universitas Pekalongan. Dalam diskusi tersebut, para pemantik menyoroti berbagai persoalan sosial ...