Langsung ke konten utama

Bendera One Piece Berkibar, Karena Suara Rakyat Tak Didengar


Di bulan Agustus, biasanya kita melihat Merah Putih berkibar di mana-mana. Tapi tahun ini ada yang berbeda. Di beberapa daerah, justru muncul pemandangan tak biasa, bendera bajak laut Mugiwara dari anime One Piece berkibar di depan rumah warga. Sekilas terlihat lucu dan nyeleneh. Tapi kalau dipikir lebih dalam, ini bukan cuma soal anime atau tren visual. Bisa jadi, ini adalah simbol dari ketidakpuasan rakyat yang tak lagi tahu harus bicara lewat apa.

Bendera Mugiwara simbol kru Topi Jerami yang melawan ketidakadilan dan kekuasaan korup, tiba-tiba hadir di dunia nyata. Saat bendera itu dikibarkan menggantikan atau menyamai posisi simbol negara, kita perlu bertanya: apa yang sedang terjadi? Mungkinkah ini cara sebagian orang menyampaikan keresahan terhadap situasi hari ini tanpa harus teriak dan turun ke jalan?

Faktanya, tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara memang sedang turun. Survei Indikator Politik Indonesia (Mei 2025) menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap DPR hanya 69%, dan partai politik bahkan lebih rendah, sekitar 62% saja. Padahal, Presiden dan TNI masih dipercaya lebih dari 80% oleh masyarakat (Detik, 2025). Ini bukan sekadar angka, ini gambaran nyata bahwa sebagian besar rakyat mulai merasa jauh dari para wakilnya.

Lebih lanjut, data dari Litbang Kompas awal tahun ini menyebutkan 19% masyarakat merasa tidak puas dengan arah pemerintahan saat ini, meskipun secara umum angka kepuasan masih tinggi karena efek bansos dan program populis lainnya (Kompas, 2025). Artinya, ada keresahan yang tidak bisa disapu bersih hanya dengan subsidi atau simbolisasi. Ketika rakyat tak lagi merasa terwakili, mereka mencari cara lain untuk bicara kadang lewat sindiran, kadang lewat simbol.

Mungkin itulah kenapa bendera Mugiwara jadi populer. Karena di balik gambar tengkorak dan topi jerami, tersimpan harapan akan keberanian, keadilan, dan kebebasan. Hal-hal yang sayangnya mulai terasa langka dalam kehidupan sehari-hari di negeri sendiri. Bukan berarti mereka anti-NKRI, tapi bisa jadi mereka sedang jenuh, kecewa, atau merasa simbol-simbol resmi tak lagi mewakili perasaan mereka.

Tentu, tindakan mengibarkan bendera fiksi sejajar dengan Merah Putih tidak dibenarkan secara hukum. Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 menyatakan bahwa Bendera Merah Putih tak boleh dikibarkan bersama atau lebih rendah dari bendera lain, kecuali dalam konteks resmi antarnegara. Tapi tidak apakan kalau lebih randah? dan daripada hanya marah atau menyalahkan, bukankah lebih bijak jika kita juga mendengarkan pesan yang sedang mereka sampaikan?

Fenomena ini bukan sekadar lelucon internet. Ini mungkin cermin: bahwa sebagian rakyat mulai bicara dengan cara yang tak biasa, karena merasa suara mereka tak cukup didengar lewat cara yang biasa.

Maka, mari jadikan momen ini bukan sekadar bahan viral, tapi juga bahan renungan. Karena mencintai negeri ini tak harus selalu formal, tapi tetap harus bermakna. Dan Merah Putih bukan cuma dikibarkan, tapi juga dimaknai, dijaga, dan dihormati. Bukan hanya oleh rakyat, tapi juga oleh negara itu sendiri.

Gimana menurut kalian? Apakah ini cuma tren anak muda, atau sinyal bahwa ada yang sedang tidak beres di Negeri ini?

Opini by: Dhuhana

Referensi:

Kompas. (2025). Survei Litbang Kompas: Kepuasan Publik Terhadap Pemerintah Awal Tahun. nasional.kompas.com 

Detik News. (2025). Survei Indikator: Kepercayaan Publik terhadap Presiden 82,7% – DPR & Partai Politik Turun. news.detik.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inagurasi PKKMB UNIKAL 2026: Penampilan Reverence dan Fragmatis Jadi Puncak Hiburan Ribuan Maba

Pekalongan, 3 September 2026 – Rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 resmi berakhir pada Kamis sore (3/9). Penutupan kegiatan tersebut ditandai dengan acara Inagurasi yang berlangsung meriah dan diikuti oleh ribuan mahasiswa baru di lingkungan kampus. Sejak sebelum acara dimulai, suasana kampus sudah terlihat ramai. Mahasiswa baru tampak memenuhi area kegiatan dengan berbagai atribut dan kelompok masing-masing. Antusiasme peserta semakin terlihat ketika acara memasuki rangkaian utama. Sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar dari para mahasiswa yang turut menikmati suasana malam penutupan PKKMB. Inagurasi menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu oleh mahasiswa baru setelah mengikuti berbagai rangkaian PKKMB selama beberapa hari. Tidak hanya menjadi acara penutup, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk bersantai dan menikmati berbagai hiburan bersama teman-teman yang baru mereka kenal selama mengikuti kegiatan kampu...

Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pekalongan 2026

  Pekalongan (04/09/26) - Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pekalongan tahun 2026 berlangsung selama lima hari, mulai 27 Agustus hingga 3 September 2026, dimulai dari Pra-PKKMB yaitu pembekalan sampai hari terakhir Sriwijaya Fest pada tanggal 3 September 2026.   PKKMB tahun ini mengambil tema, "Perubahan". Tema ini diambil karena membawa isu tentang kondisi Indonesia. Melihat situasi Indonesia pada saat ini yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja, hingga ketidakpuasan terhadap pemerintah. Untuk menyesuaikan kegiatan ini, panitia PKKMB mengajak mahasiswa baru guna menyampaikan orasi dan pendapatnya tersendiri. Secara umum kegiatan PKKMB berjalan baik dan kondusif meskipun sempat terjadi beberapa kendala.  Presiden Mahasiswa Badan Eksekusi Mahasiswa (BEM) Universitas Pekalongan, Syakif menyampaikan salah satu kendala dan hambatan yang dihadapi oleh panitia dalam penyelenggaraan PPKMB adalah kurangnya persiapan dari jauh-jauh hari. ...

Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya Gelar Aksi Demonstrasi di Gedung DPRD Sementara

      D okumentasi: Peserta Demonstrasi   Pekalongan, 19 Juni 2026 - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Diklat Kota Pekalongan. Diketahui gedung tersebut saat ini masih diperuntukkan sebagai gedung sementara DPRD Kota Pekalongan. Aksi berjudul, "Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya Menggugat" ini digelar sebagai bentuk protes dan kritik terbuka terhadap kebijakan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun di bawah kepemimpinan nasional Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Berdasarkan pantauan di lapangan massa aksi mulai bergerak melakukan longmarch dari kampus Universitas Pekalongan (UNIKAL) menuju area Gedung Diklat sejak pukul 15.00 WIB. Para peserta aksi kompak mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duma atas kondisi demokrasi saat ini. Tak lupa, massa aksi turut membawa berbagai atribut demonstrasi, mulai dari bendera organisasi hingga spanduk beris...