Langsung ke konten utama

Bandit Kaus Kaki Resahkan Jamaah Masjid UNIKAL




Pekalongan, 20 November 2025 - Warga UNIKAL dihebohkan dengan maraknya kejadian hilangnya kaus kaki jamaah saat melakukan ibadah di masjid kampus. Peristiwa ini ternyata bukan yang pertama kali terjadi.

Menurut data saksi, kasus pertama terjadi pada 28 Mei pukul 18:20, di mana seorang jamaah kehilangan kaus kakinya. Kemudian pada 3 Juni pukul 18:30, terjadi penukaran kaus kaki: kaus kaki warna krem polos tertukar dengan kaus kaki hitam polos. Kejadian serupa kembali terjadi 4 Juni pukul 18:35, ketika kaus kaki warna krem alas hitam tertukar dengan kaus kaki warna krem polos.

Kasus hilangnya kaus kaki kembali terulang pada 18 Juni pukul 18:00, kemudian lagi pada 15 September sekitar pukul 17:00. Terbaru, pada 20 November pukul 16:42, kembali terjadi pencurian kaus kaki di tempat yang sama.

Saksi mata menjelaskan bahwa pelaku biasanya datang ke masjid antara waktu Ashar hingga Isya. Pelaku berwudu seperti jamaah umumnya, namun tidak sampai satu menit kemudian sudah keluar masjid. Saat duduk-duduk memakai sepatu di luar masjid, pelaku diduga mencari kaus kaki jamaah untuk dibawa pergi.

Saksi juga menambahkan bahwa pelaku mengincar jamaah yang menggunakan sepatu jenis flatshoes, sedangkan pengguna sepatu kets memiliki kemungkinan kecil menjadi korban. “Soalnya setiap yang kehilangan itu memakai sepatu flatshoes,” ungkapnya.

Aksi ini menimbulkan rasa was-was di kalangan jamaah yang ingin beribadah dengan tenang. Mereka berharap pelaku menyadari perbuatannya dan bertanggung jawab atas tindakan yang telah merugikan banyak pihak.

By: Picon

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kolaborasi Ormawa Unikal Salurkan Bantuan Banjir: "Hanya Satu Harapan Kami, Tanggul Dibenerin!"

  Dokumentasi: Ormawa Pekalongan, 23 Januari 2026 - Semangat kolaborasi ditunjukkan oleh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Pekalongan (Unikal) dalam merespons bencana banjir yang melanda Kota Pekalongan. Meski sempat terkendala cuaca pancaroba yang tidak menentu, gabungan Ormawa seluruh fakultas di lingkungan Universitas Pekalongan sukses melaksanakan aksi penggalangan dana dan penyaluran bantuan. Agenda kolaborasi ini semula dijadwalkan mulai pukul 08.30 WIB, namun terpaksa mengalami penjadwalan ulang selama beberapa jam akibat hujan lebat. Sekitar pukul 13.00 WIB, para anggota organisasi mahasiswa baru dapat memadati area Gedung A untuk menggelar konsolidasi transparansi atas dana yang telah dikumpulkan oleh masing-masing fakultas.  Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp7.565.383. Dana tersebut dibelanjakan untuk berbagai kebutuhan mendesak para pengungsi, meliputi beras, mie instan, obat-obatan, pembalut, roti, camilan balita, air minum, kopi, teh, gula, kant...

[OPINI] Sang Arsitek yang Sibuk Menambal Atap Saat Bangunan Sudah Roboh

Melihat kursi Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) yang melompong di tengah ramainya pelantikan akbar kemarin itu ibarat menonton konser tanpa vokalis. Mewah, rapi, tapi kosong. Fenomena 'kursi gaib'   ini sejujurnya adalah monumen kegagalan paling jujur dari sistem regenerasi yang mandek di kampus kita.  Lucunya, saat semuanya sudah kepalang berantakan, barulah mereka tersadar bahwa sebuah solusi harus digalakkan. Segala daya upaya dikerahkan, rapat senat, rencana sidang darurat guna menentukan bakal calon periode 2026 yang seharusnya sudah duduk manis sambil menyilangkan kaki, semua dilakukan bagai mengobati pesakitan di detik-detik terakhir sebelum akhir hayatnya. Lalu, mengapa baru sekarang kalang kabut seperti demikian?  SEMA-U periode ini agaknya lebih menikmati peran sebagai 'tim medis' daripada 'tim gizi'. Mereka lebih hobi mengobati 'penyakit' organisasi dibanding memastikan bibit regenerasinya tumbuh sehat. Kita semua tahu betul jika mencegah i...

NASKAH ESAI: Membangun Media yang Memanusiakan Manusia

     Penulis: Diki Mardiansyah (Juara 3 Lomba Esai Festival Jurnalistik LPM Suaka UNIKAL 2021)      Media semakin tidak memegang etika jurnalistik dan menuju keadaan yang semakin mengkhawatirkan. Banyak malpraktik di industri media. Profesi wartawan banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak jelas, hanya untuk mencari keuntungan pribadi semata. Baik dengan mencari “amplop”, memeras, clickbait, membuat media “abal-abal” yang tujuannya hanya mencari uang, atau menjadikan media memuat berita yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan      Hal itu, saya kira, menjadi pelanggaran kode etik yang sangat serius dan semakin menggejala. Dengan dilanggarnya kode etik jurnalistik itu, implikasinya adalah media tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan karena membuat berita yang tidak berkualitas dan bermutu. Padahal, media menjadi sarana penting untuk menyampaikan pesan tentang kemanusiaan. Sebab, kemanusiaan adalah nilai universal yang dapat men...