Langsung ke konten utama

[Opini Publik] Berikan Aspirasi Tanpa Anarki


Demonstrasi adalah hak konstitusional warga negara. Hak itu dijamin oleh undang undang dan dijunjung tinggi dalam demokrasi. Demonstrasi hadir karena ada kegelisahan publik yang tidak terjawab oleh kebijakan. Ia adalah ruang menyuarakan, ruang mendebat, ruang mendesak agar wakil rakyat benar benar mendengar. Namun apa yang terjadi di Kota Pekalongan pada Sabtu (30/08/2025) justru menjadi ironi. Gedung DPRD yang mestinya menjadi rumah aspirasi dibakar dan dijarah oleh massa yang kehilangan kendali.

Kronologi mencatat bahwa pada pukul (12:10) sekelompok massa yang kebanyakan remaja bahkan pelajar langsung menyerbu area kantor Setda dan gedung DPRD. Tidak ada orasi yang menggema, tidak ada dialog yang muncul. Yang ada hanyalah perusakan dan pembakaran. Kursi-kursi di ruang rapat ditumpuk lalu disulut api. Dari luar gedung terlihat asap mengepul dan api kian membesar. Aparat pemadam kebakaran kesulitan masuk karena situasi yang tidak terkendali.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menyebut aksi itu dipicu kelompok anarko yang merusak pos jaga DPRD hingga membakar bilik ATM. Sementara Sekretaris Daerah Kota Pekalongan Nur Priyantomo menyayangkan keterlibatan anak-anak muda. Ia mengatakan kami menyayangkan aksi ini tidak dilakukan secara damai bahkan cenderung anarki. Anak anak remaja yang melakukan pelemparan pembakaran dan sebagainya, kami imbau agar jangan ikut aksi. Pernyataan itu menunjukkan adanya kekecewaan sekaligus keprihatinan karena aksi yang semula diharapkan menjadi wadah aspirasi berubah menjadi panggung anarki.

Api yang melahap gedung DPRD sesungguhnya juga membakar substansi demokrasi. Tujuan utama sebuah demo adalah menyampaikan aspirasi dengan cara yang bermartabat. Ketika kursi dibakar dan jendela dipecahkan maka yang tersisa hanya amarah tanpa pesan. Publik tidak lagi ingat substansi tuntutan melainkan hanya mengingat kerusuhan. Inilah yang membuat aspirasi kehilangan kekuatan moralnya.

Kita perlu kembali mengingat nilai-nilai demonstrasi. Pertama, demo harus dijalankan dengan etika agar pesan yang disampaikan tetap bermartabat. Kedua, demo harus mengedepankan logika sehingga kritik yang diajukan rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, demo harus menjaga estetika sosial sehingga perjuangan rakyat tercatat indah dalam sejarah dan tidak ternoda oleh perusakan.

Peristiwa di Pekalongan seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Jika ada kebijakan yang dianggap merugikan seharusnya ruang dialog dibuka lebar. DPRD sebagai lembaga wakil rakyat mesti berani mendengar dan memberikan jawaban. Rakyat pun seharusnya bersuara dengan cara yang elegan. Bayangkan jika ribuan orang yang turun ke jalan itu duduk di halaman gedung DPRD lalu membacakan tuntutan mereka dan menyerahkannya kepada pimpinan dewan. Bayangkan jika pengeras suara digunakan untuk menggemakan argumentasi alih-alih melempar batu atau membakar fasilitas. Suara rakyat akan jauh lebih didengar dan martabat tetap terjaga.



Membakar gedung tidak menyelesaikan persoalan. Merusak dan menjarah fasilitas umum hanya melahirkan luka baru yang justru dirasakan oleh rakyat sendiri. Jalan rusak, kantor lumpuh, dan pelayanan publik terganggu. Pada akhirnya masyarakat luas yang harus menanggung akibatnya.

Sudah saatnya demonstrasi kembali ke jalur yang benar. Rakyat boleh marah tetapi jangan sampai kehilangan arah. Demokrasi memberi ruang untuk bicara tetapi tidak untuk menghancurkan. Kita harus memilih untuk menyalakan dialog bukan api, menyalakan suara bukan amarah, menyalakan aspirasi bukan anarki.

Hari ini setelah asap hitam memenuhi langit Pekalongan kita perlu bertanya mau kita biarkan amarah yang salah alamat terus berulang atau kita kembalikan demo ke khitahnya sebagai suara yang jernih dan kuat. Jawaban ada pada kesadaran kolektif bahwa suara yang lantang akan lebih abadi daripada api yang membakar.

Opini dari : Reffi Mahriza

Referensi:


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandit Kaus Kaki Resahkan Jamaah Masjid UNIKAL

Pekalongan, 20 November 2025 - Warga UNIKAL dihebohkan dengan maraknya kejadian hilangnya kaus kaki jamaah saat melakukan ibadah di masjid kampus. Peristiwa ini ternyata bukan yang pertama kali terjadi.

"PENYAKITNYA SATU, DRAINASE BURUK": WARGA DAN MAHASISWA KELUHKAN BANJIR

  Dokumentasi:  AbrĂ£o de Carvalho Pekalongan - Hujan deras yang mengguyur Kota Pekalongan selama tiga hari berturut-turut mencapai puncaknya pada Sabtu ini, tanggal 17 Januari 2026. Akibatnya, banjir merendam akses Jalan hingga masuk area Universitas Pekalongan dan perumahan disekitarnya. Kedalaman banjir pun variatif, mengingat struktur jalan yang berbeda ketinggiannya.  Kondisi banjir ini menjadi sorotan tajam karena terjadi tepat di tengah suasana Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil. Hal tersebut dinilai sangat mengganggu fokus dan ritme akademik. Andini, mahasiswi Program Studi Agroteknologi semester lima, mengungkapkan kekhawatirannya saat ditemui di lokasi.  "Sangat memprihatinkan ya, karena di sini air sudah mau naik ke atas juga. Kalau semisal hari ini ada perkuliahan, tentu akan menghambat jalannya kegiatan di Universitas Pekalongan," ujarnya. Dokumentasi: Erlanda Setyawan Senada dengan Andini, Karina Octaviana berharap adanya langkah konkret dari pihak rekto...

Demokrasi Kampus di Titik Nadir: Skandal Sertifikat dan Matinya Independensi Penyelenggara Pemira

  Pekalongan, 14 Desember 2025 - Pelaksanaan debat terbuka Pemira di Universitas Pekalongan diwarnai dengan pengunduran diri salah satu calon kandidat. Keputusan tersebut diambil di tengah berlangsungnya acara setelah adanya unggahan  terkait dugaan penyelewengan sertifikat LKMM-TM ITSNU. Mahasiswa di lokasi terlihat riuh dan mempertanyakan beragam spekulasi di kalangan mahasiswa mengenai integritas panggung pemilihan tersebut. Peristiwa ini bermula ketika isu keabsahan sertifikat LKMM-TM milik salah satu kandidat menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Di tengah prosesi debat terbuka, kandidat yang bersangkutan secara resmi menyatakan mengundurkan diri dari bursa pencalonan. Dalam pernyataannya ia menjelaskan,  "Pada awalnya saya akan Kembali ke fakultas Teknik bahkan telah melakukan konsolidasi pada hari 24 November 2025. Hal tersebut dapat dikonfirmasikan kepada teman-teman Teknik yang hadir pada hari itu. Namun pada malam tanggal 26 November 2025 tepat sebelum pen...