Langsung ke konten utama

[OPINI] Sang Arsitek yang Sibuk Menambal Atap Saat Bangunan Sudah Roboh


Melihat kursi Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) yang melompong di tengah ramainya pelantikan akbar kemarin itu ibarat menonton konser tanpa vokalis. Mewah, rapi, tapi kosong. Fenomena 'kursi gaib' ini sejujurnya adalah monumen kegagalan paling jujur dari sistem regenerasi yang mandek di kampus kita. 

Lucunya, saat semuanya sudah kepalang berantakan, barulah mereka tersadar bahwa sebuah solusi harus digalakkan. Segala daya upaya dikerahkan, rapat senat, rencana sidang darurat guna menentukan bakal calon periode 2026 yang seharusnya sudah duduk manis sambil menyilangkan kaki, semua dilakukan bagai mengobati pesakitan di detik-detik terakhir sebelum akhir hayatnya. Lalu, mengapa baru sekarang kalang kabut seperti demikian? 

SEMA-U periode ini agaknya lebih menikmati peran sebagai 'tim medis' daripada 'tim gizi'. Mereka lebih hobi mengobati 'penyakit' organisasi dibanding memastikan bibit regenerasinya tumbuh sehat. Kita semua tahu betul jika mencegah itu lebih sulit; sebuah organisasi perlu sosialisasi masif dan jemput bola ke tiap fakultas, dibutuhkan juga relasi dan sumber daya mahasiswa yang cakap atau minimal tau tupoksi Senat Mahasiswa. Hal itu sangat mungkin bisa dipersiapkan dengan matang sebelum hari H pemilihan. Tapi, sepertinya, SEMA-U lebih memilih jalur adrenaline rush. Mereka biarkan keran kaderisasi tersumbat, lalu panik luar biasa saat sadar tiada yang mau duduk di kursi empuk legislatif. 

Usai pengunduran diri sang mantan calon tunggal Ketua Senat Mahasiswa Universitas tepat pada saat debat terbuka yang dilaksanakan di GOR Unikal tanggal 14 Desember 2025 dikarenakan adanya persoalan pelik administrasi, calon penerus baru tak kunjung diketahui di mana rimbanya. Demi memenuhi tugasnya agar tidak alang kepalang di detik-detik chaos ini, SEMA-U berusaha mengembalikan marwahnya dengan meminta Senat Mahasiswa Fakultas untuk memberikan delegasi pengisi kursi-kursi kosong tersebut yang selanjutnya akan ditentukan lewat persidangan.  

Namun, tidak dipungkiri, dalam keadaan 'kepepet' biasanya orang akan melakukan apapun tanpa peduli konsekuensi dikecam dari luar. Demi mengejar waktu, mereka sampai hati mengesampingkan persyaratan baku di Konstitusi Mahasiswa. Sebut saja syarat kompetensi seperti sertifikat LKMM-TM yang mendadak boleh disusulkan ketika sang calon sudah menjabat. Dengan kata lain, hal ini hampir mirip dengan konsep PPG Dalam Jabatan dan para tokoh DPR RI/DPRD yang baru menempuh pendidikan tinggi (kuliah) setelah menjabat atau saat masih menjabat. 

Padahal, dalam pasal 12 Ayat 1 Konstitusi Mahasiswa menyatakan bahwa persyaratan bakal calon Ketua SEMA UNIKAL ditentukan melalui MUSMA UNIKAL. Forum koordinasi atau kesepakatan antar-fakultas tidak memiliki wewenang hukum untuk menganulir pasal tersebut. Jika pengawal konstitusi saja memilih jalan pintas untuk melanggar hukumnya sendiri, lantas kepada siapa lagi kedaulatan mahasiswa harus dititipkan?

Berhentilah menjadi pemadam kebakaran yang baru datang saat gedung sudah menjadi abu. Untuk pengurus-atau calon pengurus-periode mendatang, ingatlah pesan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa, "seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan". Menjadi adil sejak dalam pikiran artinya memiliki kejujuran untuk menyiapkan masa depan organisasi jauh-jauh hari. Sedia payung sebelum hujan, istilahnya. 

Jadi, apakah kita akan terus memaklumi politik 'tambal sulam' yang menabrak konstitusi sebagai kewajaran, karena memang saat ini tentu kita butuh kejelasan administrasi dan lain sebagainya, atau sudah saatnya kita menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan sistemik yang dipelihara sejak dalam pikiran?


Penulis: Tim Redaksi 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"PENYAKITNYA SATU, DRAINASE BURUK": WARGA DAN MAHASISWA KELUHKAN BANJIR

  Dokumentasi:  AbrĂ£o de Carvalho Pekalongan - Hujan deras yang mengguyur Kota Pekalongan selama tiga hari berturut-turut mencapai puncaknya pada Sabtu ini, tanggal 17 Januari 2026. Akibatnya, banjir merendam akses Jalan hingga masuk area Universitas Pekalongan dan perumahan disekitarnya. Kedalaman banjir pun variatif, mengingat struktur jalan yang berbeda ketinggiannya.  Kondisi banjir ini menjadi sorotan tajam karena terjadi tepat di tengah suasana Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil. Hal tersebut dinilai sangat mengganggu fokus dan ritme akademik. Andini, mahasiswi Program Studi Agroteknologi semester lima, mengungkapkan kekhawatirannya saat ditemui di lokasi.  "Sangat memprihatinkan ya, karena di sini air sudah mau naik ke atas juga. Kalau semisal hari ini ada perkuliahan, tentu akan menghambat jalannya kegiatan di Universitas Pekalongan," ujarnya. Dokumentasi: Erlanda Setyawan Senada dengan Andini, Karina Octaviana berharap adanya langkah konkret dari pihak rekto...

Kolaborasi Ormawa Unikal Salurkan Bantuan Banjir: "Hanya Satu Harapan Kami, Tanggul Dibenerin!"

  Dokumentasi: Ormawa Pekalongan, 23 Januari 2026 - Semangat kolaborasi ditunjukkan oleh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Pekalongan (Unikal) dalam merespons bencana banjir yang melanda Kota Pekalongan. Meski sempat terkendala cuaca pancaroba yang tidak menentu, gabungan Ormawa seluruh fakultas di lingkungan Universitas Pekalongan sukses melaksanakan aksi penggalangan dana dan penyaluran bantuan. Agenda kolaborasi ini semula dijadwalkan mulai pukul 08.30 WIB, namun terpaksa mengalami penjadwalan ulang selama beberapa jam akibat hujan lebat. Sekitar pukul 13.00 WIB, para anggota organisasi mahasiswa baru dapat memadati area Gedung A untuk menggelar konsolidasi transparansi atas dana yang telah dikumpulkan oleh masing-masing fakultas.  Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp7.565.383. Dana tersebut dibelanjakan untuk berbagai kebutuhan mendesak para pengungsi, meliputi beras, mie instan, obat-obatan, pembalut, roti, camilan balita, air minum, kopi, teh, gula, kant...

Misteri Kursi Kosong Legislatif di Tengah Pelantikan Serentak Ormawa Unikal

  Fotografer: AbrĂ£o de Carvalho Pekalongan - Setelah sempat tertunda akibat polemik sertifikat palsu hingga musibah banjir yang melanda Kota Pekalongan, KPR Unikal akhirnya menggelar pelantikan akbar bagi seluruh pengurus Organisasi Mahasiswa (ORMAWA), Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM), hingga Himpunan Mahasiswa (HIMA) program studi periode 2026 pada Senin (19/01/2026).  Acara ini merupakan puncak dari rangkaian panjang Pemilihan Raya (Pemira) Universitas Pekalongan. Pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut dilaksanakan di Gedung C Lantai 3 Auditorium Universitas Pekalongan, dengan dihadiri oleh jajaran Rektorat, Dekanat, serta para Fungsionaris Mahasiswa yang akan mengemban amanah selama satu tahun ke depan.  Wakil Rektor III Unikal, Bapak M. Fajru Sidqi, S.Pd., M.Hum., dalam sambutannya memberikan pesan mendalam mengenai arah gerak Organisasi Mahasiswa. Beliau menyoroti penurunan kinerja mahasiswa yang tercermin dari capaian prestasi di angk...