Pekalongan - Hujan deras yang mengguyur Kota Pekalongan selama tiga hari berturut-turut mencapai puncaknya pada Sabtu ini, tanggal 17 Januari 2026. Akibatnya, banjir merendam akses Jalan hingga masuk area Universitas Pekalongan dan perumahan disekitarnya. Kedalaman banjir pun variatif, mengingat struktur jalan yang berbeda ketinggiannya.
Kondisi banjir ini menjadi sorotan tajam karena terjadi tepat di tengah suasana Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil. Hal tersebut dinilai sangat mengganggu fokus dan ritme akademik. Andini, mahasiswi Program Studi Agroteknologi semester lima, mengungkapkan kekhawatirannya saat ditemui di lokasi. "Sangat memprihatinkan ya, karena di sini air sudah mau naik ke atas juga. Kalau semisal hari ini ada perkuliahan, tentu akan menghambat jalannya kegiatan di Universitas Pekalongan," ujarnya.
Senada dengan Andini, Karina Octaviana berharap adanya langkah konkret dari pihak rektorat untuk meminimalisir dampak banjir ke area kampus, seperti peninggian jalan agar air tidak meluber ke dalam gedung.
Selain itu, kritik keras terhadap infrastruktur dilayangkan oleh Bapak Yohanes, warga Perumahan Gama Asri sekaligus Ketua Lingkungan Kristiani setempat, ia menegaskan bahwa akar masalah bukan sekedar pada faktor cuaca, melainkan infrastruktur yang tidak memadai.
"Penyakit Pekalongan itu satu: drainasenya buruk. Saluran air hampir tidak ada, lihat saja jalan ini, tidak ada saluran yang memadai. Sekalipun hujan sudah selesai, banjirnya tidak hilang-hilang. Berarti kan masalahnya di saluran airnya," tegas Bapak Yohanes.
Ia juga menyayangkan pola penanganan pemerintah yang selama ini dianggap hanya bersifat kuratif melalui pemberian bantuan tanpa menyentuh akar masalah teknis. Menurutnya, pemerintah seolah-olah menganggap persoalan selesai hanya dengan memberi bantuan saat banjir datang, namun kembali abai saat air telah surut tanpa adanya tindakan nyata seperti pengerukan sungai atau pembenahan drainase untuk solusi permanen.
Hingga berita ini diturunkan, banjir belum menunjukkan tanda-tanda surut.
Penulis : Picon
Reporter : Erlanda Setyawan & Abrão de Carvalho




Komentar
Posting Komentar